
Bukan tidak mungkin setiap orang menginginkan sebuah lingkungan yang sangat asri. Seperti udara segar dan penghijauan sehingga membuat setiap orang merasa nyaman di lingkungannya sendiri. Tapi bagi warga yang berdomisili di kawasan kota yang memiliki produktivitas yang sangat tinggi semacam kota-kota besar hal tersebut bukan tidak mungkin sulit terwujud. Seperti yang belum lama saya saksikan di sebuah tayangan televisi lokal bahwa beberapa waktu yang lalu Jepang telah berhasil mengembangkan pembuatan udara segar di lingkungan perkotaan. Tentunya setiap orang harus membayar untuk mendapatkan udara segar tersebut. Bukan tidak mungkin kita harus merogoh kocek yang tidak sedikit jika kita harus membayar untuk mendapatkan udara segar ?.Jakarta, salah satu kota yang memiliki tingkat mobilitas tinggi di negeri tercinta ini. Seperti kita ketahui bersama, layaknya kota besar Jakarta memiliki tingkat masalah yang sangat kompleks seperti banjir, macet, kepadatan penduduk, pengelolaan parkir, dan lain-lain. Akan tetapi pembahasan dalam tulisan ini ialah mengenai arti penting udara segar bagi setiap orang, khususnya setiap orang yang menghabiskan waktu di Jakarta. Terkait dengan hal tersebut masalah yang dihadapi adalah pencemaran udara. Keberadaan kendaraan bermotor yang ada di Jakarta tiap tahun makin bertambah, seiringnya peningkatan tersebut karna mudahnya untuk mendapatkan sebuah kendaraan. Sehingga tak ayal lagi kendaraan bermotor memiliki “kontribusi” pencemaran terbesar.
Polusi udara di Jakarta 80 persennya berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor, sisanya dari industri. Hal tersebut merupakan pemandangan sehari-hari warga ibukota, dapat kita lihat banyaknya kendaraan-kendaraan khususnya bus kota yang tidak layak jalan masih berkeliaran. Hal yang selalu dihindari para pengendara motor seperti saya ketika harus berada dibelakang sebuah bus kota yang menghasilkan asap dari solar mereka ke arah pengendara motor terkadap meski sudah dilindungi helm fulface dan didalamnya dilapisi balack lava, asap solar tetap masih terasa. Bukan berarti kendaraan pribadi dan bahkan pengendara motor seperti saya tidak berkontribusi terhadap pencemaran udara yang ada.
Mari kita lihat seberapa besar kendaraan bermotor memiliki “kontribusi” yang besar. Kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi nitrogen dioksida (NO2) sebanyak 43.170,98 ton per tahun; hidrokarbon (HC) 33.875,98 ton per tahun; karbon monoksida (CO) 706.123,10 ton per tahun; dan karbon dioksida (CO2) sebesar 11.770,960 ton per tahun. Meski begitu selain kendaraan bermotor terdapat hal lain yang berkontribusi akan pencemaran udara di Jakarta ini seperti kemacetan, infrastruktur jalan raya, dan pembangunan jalan raya baru dan penggalian jalan dimana-dimana. Terkait hal tersebut data pada 2006 menunjukan pula udara dalam kategori tidak sehat meningkat menjadi 51 hari. Padahal, di tahun sebelumnya hanya 18 hari saja. Ironisnya di tahun yang sama Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga sempat dianugerahi ”The 2006 Championship for Air Quality Management (AQM)” pada workshop internasional ”Batter Air Quality (BAQ)” di
Keberlanjutan masalah ini tentunya berpengaruh terhadap kesehatan pada warga baik yang berdomisili dan bermobilitas di Jakarta. Kasus kematian dan sakit akibat polusi udara di Jakarta cukup tinggi dibandingkan dengan
Bagaimana menangani hal tersebut ? terdapat beberapa cara yang telah diterapkan di beberapa negara terkait polusi akibat kendaraan bermotor seperti larangan masuk kendaraan pada jalan yang ramai pada jam tertentu, larangan parkir, sel lalu lintas, hari tanpa mengemudi, bersepeda, jam kerja yang flexible, kerja jarak jauh, pemeriksaan dan pemeliharaan kendaraan, pembangkit tenaga listrik, pengembangan teknologi baru, sistem turbin derivatif pada pesawat, dan sel bahan bakar sampai kendaraan alternatif ramah lingkungan. Meski beberapa aspek tersebut telah diterapkan seperti sejak 2004 munculnya komunitas Bike To Work yang mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai alternatif moda transportasi. Selain hal tersebut pentingnya kesadaran warga akan arti penting udara yang bersih bebas polusi menuntut kita untuk mengubah budaya hidup masyarakat. Memang bukan hal yang mudah akan tetapi jika dilakukan tahap demi tahap dan kemudian menularkannya kepada generasi berikutnya, bukan tidak mungkin polusi udara dapat berkurang.
Beberapa hal penting yang harus digaris bawahi ialah, meski beberapa masalah yang muncul adalah tanggung jawab pemerintah untuk mengatasinya akan tetapi kita sebagai masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk membuat lingkungan kita agar tetap dalam kondisi yang diinginkan.
Mari mulai dari kita untuk kelangsungan bersama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar