Mengapa musibah terjadi terus-menerus? Hal itu selalu muncul dalam pikiran saya yang lamban ini ketika pertama kali mendengarnya. Ketika saya memikirkan jawabannya, berbagai teori muncul di benak saya, mulai dari yang ilmiah sampai sama sekali tidak ilmiah. Tapi hampir semuanya berkaitan dengan manusia serta segala “keterpusatan pada dirinya” yang disebut sebagai antroposentrisme. Manusia adalah pusat dari segala-galanya.
Tapi menurut Saya, bencana alam di
Isu lingkungan hidup seperti kita semua ketahui telah lama menjadi isu yang meng-global, bukan sekedar masalah dalam negeri
Isu lingkungan hidup menjadi isu global disebabkan oleh beberapa hal (Banyu Perwita & Yanyan Mochamad Yani, 2005), pertama, permasalahan lingkungan hidup selalu membawa efek global. Seperti masalah peningkatan kadar CFC di bumi. Kedua, permasalahan lingkungan hidup juga menyangkut eksploitasi terhadap sumber daya global seperti lautan dan atmosfer. Ketiga, isu tersebut bersifat transnasional, di mana kerusakan lingkungan hidup di suatu negara akan berdampak pula bagi wilayah di sekitarnya. Keempat, banyak kegiatan eksploitasi yang menyebabkan degradasi lingkungan memiliki skala lokal, tetapi dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia sehingga dapat dianggap sebagai masalah internasional. Dan yang terakhir, adalah karena proses yang menyebabkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan berhubungan dengan proses-proses politik dan sosial-ekonomi yang lebih luas, di mana proses-proses tersebut merupakan bagian dari ekonomi-politik global.
Salah satu teori yang mengkritik eksploitasi manusia terhadap alamnya adalah pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh Eckersley, Goodin dan Dobson (Matthew Patterson, 2001) yang disebut sebagai kelompok Green Politics. Pada dasarnya pemikiran ini adalah menekankan pada pentingnya suatu paham serta upaya yang berlandaskan pada ecocentrism, yaitu suatu bentuk penolakan atas pandangan anthropocentris atas dunia. Yang terpenting adalah keseimbangan antara alam dan manusia. Pada saat keseimbangan tadi tidak lagi bersifat seimbang, maka pada saat itulah kerusakan akan terjadi. Istilahnya adalah catastrophe, atau bencana. Jika masih dibingungkan dengan istilah antroposentrisme serta ekosentrisme, mari kita lihat ilustrasi di bawah ini.
Masih ingat beberapa waktu yang lalu, sekawanan gajah singgah di desa yang dihuni manusia, dan memorakporandakannya? Orang dengan cara berpikir antroposentris akan berkata, “bunuh saja kawanan gajah itu, karena dapat membahayakan manusia.” Namun di lain pihak, seorang yang ekosentrisme akan berkata, “salah siapa gajah-gajah itu merusak pemukiman masyarakat? Salah manusia! Karena manusia yang merusak habitat hidup gajah-gajah tersebut, dengan melakukan penebangan-penebangan hutan.”
Seorang antroposentris akan selalu mengatakan bahwa manusialah raja di muka bumi ini. Mahluk-mahluk lain hidup menumpang.
Saya tidak mengatakan bahwa cara berpikir seperti itu salah. Manusia wajib membela dirinya sendiri jika ia merasa terancam. Tapi bayangkan rentetan akibat yang terjadi hanya karena kita terlalu memikirkan diri sendiri.
Padahal masalah kerusakan lingkungan bukan merupakan masalah yang sifatnya temporer, yang jika dibiarkan berlarut-larut justru akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah lagi. Mungkin tak akan jauh berbeda dengan apa yang diilustrasikan dalam film The Day After Tomorrow. Sebuah gambaran mengenai kiamat yang datang karena ketidakpedulian manusia terhadap lingkungannya, mempengaruhi seluruh negara dan bangsa. Tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa manusia akan menciptakan kiamat bagi dirinya sendiri.
Pepatah mengatakan, kita tidak belajar dari pengalaman. Tetapi kita belajar dari refleksi atas pengalaman itu sendiri. Yang terpenting dalam pembelajaran kali ini adalah tentang bagaimana kita telah memperlakukan lingkungan dan alam kita sendiri. Perubahan gaya hidup, serta pentingnya nilai ekosentrisme dalam menangani masalah lingkungan mungkin akan menjadi tindakan penyelamatan, walau sekecil apapun.
Sudah saatnya kita bangkit. Tidak perlu menangisi sesuatu yang sudah lewat, dan tidak usah takut menghadapi suatu yang belum datang. Mudah bagi saya mengatakan ini, karena sampai saat ini “alhamdulillah” daerah Bandung dan sekitarnya belum terkena musibah seperti di daerah-daerah lain, kecuali masalah sampah yang terus menerus menjadi “masalah” tanpa ada solusinya.
Sekali lagi, mengapa musibah terus-menerus terjadi? Jawabannya ada dalam pikiran kita masing-masing..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar